Senin, 17 Januari 2011

Ultah

Ulang Tahun..
moment penting untuk mengingat semua kebaikan Tuhan dalam hidup hingga hari ini

Kamis, 13 Januari 2011

Mengenal Lebih Dekat Tanaman Ndusuk (Melastoma malabathricum)

Ndusuk, begitu orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur menyebut tanaman perdu ini. Ndusuk sudah sangat akrab dengan kebudayaan orang Manggarai. Daun tanaman dari family Melastomataccae ini biasanya direbus bersama lemak daging dan dijadikan sayuran dalam acara-acara adat di Manggarai. Tanaman dengan nama latin Melastoma malabathricum atau orang Jawa menyebutnya Senggani tumbuh liar hampir di seluruh daerah di Manggarai, terutama di daerah-daerah dataran tinggi.


Ndusuk memiliki morfologi yang mudah dikenali. Berbunga majemuk dengan mahkota bunga berlekatan dan berwarna ungu, benang sari berjumlah delapan hingga dua belas dengan panjang ± 3cm berwarna kuning bercampur putih, membuat Ndusuk tampak indah sehingga sering juga dijadikan tanaman hias. Buah berbentuk bulat telur berwarna ungu dengan biji kecil berwarna coklat kemerahan. Tinggi tanaman ini bisa mencapai 3 meter dengan batang berkayu, berbentuk bulat, berwarna coklat dan berambut dengan percabangan simpodial. Jika sudah tua, batangnya bisa dijadikan kayu bakar. Dari ciri fisik daunnya, Ndusuk bisa dikenali dengan bentuknya yang lonjong dengan ujung lancip dan 3 tulang daun yang melengkung. Daun tunggal berwarna hijau, bertangkai pendek, letak silang berhadapan dan permukaan yang berambut. Panjang daun berkisar 4-12 cm dan lebar 2-8 cm. Tanaman perdu yang oleh orang Sunda disebut Harendong ini memiliki akar tunggang berwarna coklat.


Jika di Manggarai Ndusuk hanya dikenal sebagai sayuran, tetapi di daerah-daerah lain di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Madura dan Sumatera, Ndusuk lebih dikenal sebagai tanaman obat yang berkhasiat sebagai obat diare, keputihan, luka bakar, sariawan dan radang usus. Megawati Simanjuntak (2008) dalam penelitiannya tentang Ekstraksi dan Fraksinas Daun Tumbuhan Melastoma malabathricum, membuktikan bahwa dalam daun Ndusuk terkandung senyawa kimia flavonoida, saponin dan tanin. Flavonoid dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker. Manfaat flavonoid antara lain adalah untuk melindungi struktur sel, antinflamasi (antiradang), mencegah keropos tulang dan sebagai antibiotik. Dalam banyak kasus, flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri atau virus.


Tanin merupakan astrigen yang mengikat dan mengendapkan protein berlebih dalam tubuh. Dalam bidang pengobatan, Tanin digunakan untuk mengobati diare, hemostatik (menghentikan pendarahan) dan wasir. Saponin dapat menurunkan kolesterol dan memiliki kemampuan sebagai pembersih dan antiseptic yang berfungsi untuk membunuh atau mencegah pertumbuhan mikro organisme.
Kandungan Tanin dan Saponin dalam Ndusuk diperkirakan yang menjadi alasan dipilihnya daun ini oleh orang Manggarai sebagai sayuran yang dicampur dengan lemak daging. Kedua zat kimia ini dapat mengikat protein dan kolesterol yang berlebihan dalam lemak daging dan membunuh berbagai mikro organisme yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan.


Dengan kandungan zat kimia berkhasiat obat yang dimilikinya, maka Melastoma malabathricum dapat kita budidayakan sebagai tanaman obat dan menjadi alternative pengobatan untuk berbagai penyakit. Untuk mengobati penyakit dalam seperti diare misalnya, dapat kita obati dengan meminum air rebusan campuran segenggam daun Ndusuk yang masih muda dan 5 gram kulit buah manggis. Untuk menetralkan racun, cukup dengan minum rebusan daun Ndusuk. Penyakit luar seperti luka dapat pula disembuhkan dengan daun Ndusuk. Daun Ndusuk yang masih segar atau yang telah dikeringkan digiling halus, lalu dibubuhkan pada luka bakar atau luka berdarah. Luka kemudian dibalut, agar pengobatan berjalan lancar.

Senin, 10 Januari 2011

Jalan-jalan ke Loh Buaya Pulau Rinca

Kemaren saya jalan2 ke Loh Buaya Pulau Rinca, ngenterin kakak saya yg jadi orang Manggarai tetapi belum pernah liat Varanus komodoensis :)
Labuan Bajo berkabut saat kami berangkat pada jam 08.00 WITA, tetapi didorong oleh keinginan luhur melihat komodo, kami memberankan diri berangkat dengan kekuatiran akan cuaca yang memburuk di tengah perjalanan.

kekuatiran kami terjawab, lewat pulau monyet, ombak menghantam boat kami abis-abisan. kamipun berniat untuk kembali lagi ke Labuan Bajo. Tak terbayangkan jika dalam dua jam kedepan boat kami akan dihantam ombak segede itu terus hingga tiba di Loh Buaya. walau life jacket melekat di badan, tetapi saya maupun kakak saya asli orang gunung yang gak bisa berenang.

Kapten boat Angker bersama ABK nya Sogi dan anjoy meyakinkan kami bahwa ombak hanya akan sampai di Pulau Kelor, pulau berpasir putih yang sudah keliatan dari jauh. kamipun dengan penuh keteguhan hati bertahan untuk tidak kembali. ternyata benar yang dikatakan Angker, sampai pulau Kelor, lautpun tenang. kamipun bisa tidur-tiduran menenangkan diri setelah adrenalin dipacu ombak :)

Jam sepuluh lewat lima belas menit tampak tak terasa, kami tiba di pelabuhan Loh Buaya. Tak banyak berubah. masih seperti terakhir saya lihat september 2010 kemarin.


Boni, seorang guide sukarelawan, menemani kami tracking. hanya short tracking. berfoto-foto dan menikmati habitat asli naga komodo hingga jam 1 siang lalu kami kembali ke Labuan Bajo.

Jumat, 07 Januari 2011

Antibiotik Picu Risiko Asma pada Bayi

Artikel berikut ini kuambil dari Kompas. Kupikir sangat bagus buat ibu-ibu jaman sekarang yang suka sekali memberikan obat antibiotik buat anaknya.Silahkan dibaca...

JAKARTA, KOMPAS.com - Peresepan obat-obatan pembunuh kuman atau antibiotik pada bayi sebelum mencapai usia enam bulan ternyata dapat mengundang risiko. Sebuah penelitian di AS menyebutkan, bayi yang mendapat antibiotik berisiko 70 persen lebih tinggi menderita asma pada masa kecilnya.
Para peneliti di Universitas Yale mengindikasikan, bayi menghadapi peningkatan risiko asma hingga 40 persen bila mendapat resep antiobiotik untuk sekali pengobatan di bulan-bulan awal kelahirannya. Risiko akan naik menjadi 70 persen bila mereka mendapat resep kedua untuk mengobati infeksi yang sulit disembuhkan.
Kajian para ilmuwan ini adalah serangkaian temuan terbaru dalam ilmu obat-obatan yang berkaitan dengan asma pada anak-anak. Para ahli terbagi pendapatnya mengenai dampak antibiotik ini. Ada yang meragukan apakah memang antibiotik menjadi penyebab, ataukah bayi yang dilibatkan dalam studi sudah memiliki bakat mengidap asma.
Namun begitu, dalam laporan terbaru yang bakal dimuat American Journal of Epidemiology, para ilmuwan menyimpulkan bahwa hubungan tersebut memang kuat. Bahkan setelah memperhitungkan faktor lainnya seperti riwayat asma dalam keluarga.
Dalam risetnya, para ilmuwan di Universitas Yale memantau 1.400 anak untuk melihat apakah peresepan antiobiotik pada usia dini menyebabkan kasus asma lebih tinggi pada usia enam tahun.
Anak-anak yang dilibatkan adalah mereka yang diberi resep antibiotik sebelum usia enam bulan untuk masalah infeksi di luar infeksi bagian dada yang identik dengan gejala asma. Peserta juga termasuk anak-anak yang dilahirkan dari orangtua yang tidak memiliki riwayat asma.
Hasilnya, menunjukkan peningkatan besar risiko terserang asma pada anak-anak yang diberi antibiotik sebelum usia mereka enam bulan. Meskipun anak tersebut tak punya riwayat asma.
"Menggunakan antibiotik, khususnya dalam spektrum yang luas, dapat mengubah flora mikroba dalam usus anak. Sehingga menimbulkan ketidakseimbangan dalam sistem kekebalan tubuh dan menyebabkan buruknya respon alergi," papar Dr Kari Risnes, pemimpin penelitian.
Risnes mengharapkan hasil penelitian ini menjadi motivasi khusus bagi dokter agar menghindari penggunaan antibiotik yang tidak perlu. Terutama pada anak-anak berisiko rendah.

Gayus Akhirnya Mengaku

JAKARTA, KOMPAS.com — Hasil interogasi oleh tim gabungan dari Bareskrim Polri dan Direktorat Jenderal Imigrasi, Gayus Halomoan Tambunan mengakui pergi ke tiga lokasi yakni Singapura, Makau, dan Kuala Lumpur selama menjadi tahanan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.
"Yang bersangkutan (Gayus) dari hasil interogasi benar memang ke sana. Ke Makau, Kuala Lumpur, Singapura juga," ucap Kepala Divisi Humas Pori Irjen Anton Bachrul Alam di Mabes Polri, Jumat (7/1/2011).
Selain itu, kata Anton, Gayus juga mengaku pergi dengan menggunakan paspor atas nama Sony Laksono. Interogasi dilakukan pada Selasa (4/1/2011) malam hingga Rabu (5/1/2010) pagi. Penyelidikan itu dilakukan tanpa pemberkasan lantaran penyidik belum mendapat izin dari majelis hakim.
Seperti diberitakan, menurut Menteri Hukum dan HAM Patrialis Akbar, data pada paspor atas nama Sony Laksono itu palsu. Menurut dia, paspor atas nama Sony laksono itu secara resmi tak pernah dikeluarkan oleh imigrasi. Data dalam paspor yang diterbitkan 5 Januari 2010 itu menyebutkan Sony Laksono lahir 17 Agustus 1975.

Gayus menuding ada pihak yang sengaja mengatur hingga kasus kepergian ke luar negeri itu mencuat ke publik. Dia sempat mempertanyakan mengapa paspor itu muncul di twitter Sekretaris Satgas Pemberantasan Mafia Hukum Deny Indrayana.