Sabtu, 20 Desember 2008

Kembali Ke Titik Nol

Akhirnya saya kembali ke titik nol. Titik dimana saya memulai semua perjalanan ini. Setelah menyapa merapi, setelah menikmati perpisahan dengan matahari di senggigih, setelah bermain ombak di calabay, setelah membasahi dahaga di sungai Mahakam, setelah menyentuh tugu katulistiwa, setelah kenyang makan pempek, setelah tau membuat papeda, setelah memancing di taliabu, setelah berkenalan dengan gamalama, setelah mencicipi suami dan ikan fufu, setelah sarapan pagi dengan nasi pulut unti, setelah kekenyangan makan ikan bakar dabu-dabu, setelah makan coto di losari, saya kemudian kembali ke titik ini, tempat semua perjalanan ini dimulai.
Kenapa? Lelahkah? Tidak, tidak pernah ada lelah dalam perjalanan saya, semuanya sangat indah dan menyenangkan dan semuanya terjalani dengan ikhlas. Atau sudahkah semuanya teraih? Belum, Jayawijaya belum juga teraih. Lalu mengapakah harus kembali ke titik awal ini? Hanya mengikuti bisikan hati kecil, menengok segala sesuatu yang telah lama ditinggal. Itu saja.
Lalu kapankah perjalanan ini akan diteruskan? Menunggu bisikan hati kecil. Haruskah semuanya mengikuti kata hati? Ya kadang-kadang, karena perjalanan ini haruslah membuat diri saya bahagia dan dapat menikmatinya pun memaknainya. Jadi buat apa jika hati kecil saya berontak, untuk apa saya berjalan jika hati kecil saya tidak mengingininya, bukan jumlah perjalanan yang saya kumpulkan tetapi bagaimana saya bisa menikmati pun memaknai semua perjalanan yang tercipta. Demikian.
Dan hari ini saya kembali ke titik nol. Ini bukanlah sebuah akhir, ini bagian dari perjalanan.

Met Natal


Met Natal 25 Desember 2008
Damai sejahtera Dia Limpahkan untuk kita semua....

Selasa, 16 Desember 2008

Yo Ema Dami

Yo Ema dami ata kaeng eta surga
Nggeluk koe lata ngasang Dite Mori
Cai koe perentah Dite Mori
Jarikoe ngoeng Dite Mori
One lino neho eta Surga
Mose dami leso-leso
Teing koe ami leso ho’o
Agu ampong koes ndekok dami
Neho ami ampong ata pande sala agu ami
Agu neka dade ami nggerone damang
Maik tadang koes sangged da’at, Amen

Jumat, 12 Desember 2008

Musim Penghujan Tlah Tiba..

Wah..akhirnya tiba juga kita di musim penghujan. Di makassar hari-hari ini hujan melulu.
Bumi seperti menangis gak henti-henti. pagi, siang, sore malam hujan melulu. kalo hujannya tengah malam sih asyik aja ya, kan enak tidurnya bisa lebih lelap tapi kalo hujannya dari pagi sampai pagi lagi hu....... belum lagi cuaca yang dinginnya bikin badan malas bergerak.
Nih hari cuaca makassar turun ke 24 drajat celcius dari yang biasanya diatas 30 drajat celcius.
Menghalangi aktifitas. dan bawaannya hujan gini jadi malas mau beraktifitas, malas mau keluar-keluar, pinginnya bersembunyi aja di balik selimut sambil ngenet dan ngemil he....
Tetapi dibalik semua kenggaenakannya, saya tetap mensyukuri datangnya musim hujan, karena tanaman gak perlu susah-susah disiram :)
Hidup hujan....nah lho... :)

Senin, 08 Desember 2008

Dua Tipe Manusia

Ada dua laut di Palestina. Yang satu segar dan banyak ikannya. Tepinya kaya dengan kehijauan. Pohon-pohon menjulurkan cabang-cabangnya di atasnya dan juga akarnya yang haus untuk menyerap airnya yang menyembuhkan.
Sungai Yordan menjadikan laut ini dengan air pegunungan yang berkilauan. Maka tampak tertawa kalau tertimpa sinar matahari. Dan banyak orang membangun rumahnya dekat sungai ini dan burung membangun sarangnya di pohon dekat sungai ini, dan setiap jenis kehidupan menjadi lebih bahagia berkat sungai ini.
Sungai Yordan mengalir terus ke Selatan ke laut lain. Di laut yang satu ini, tak ada ikan yang berkeriapan, tak ada daun yang melambai, tak ada suara burung berkicau, tak ada tawaria anak-anak. Para pelancong memilih rute lain, kecuali kalau urusannya mendesak. Udara di atas airnya berat, dan baik manusia maupun binatang atau unggas, takkan minum airnya.
Apa yang membuat perbedaan besar di antara kedua laut yang berdekatan ini? Bukan sungai Yordan. Sungai Yordan mengalirkan air yang sama baiknya ke dalam kedua laut ini. Bukan tanahnya, bukan Negara dimana kedua laut ini berada.
Inilah bedanya. Laut Galilea menerima tetapi tidak menahan air dari sungai Yordan. Untuk setiap tetes yang mengalir di dalamnya, ada setetes yang mengalir keluar darinya. Memberi dan menerima, berlangsung secara seimbang.
Laut yang satunya lagi lebih cerdik, menimbun pemasukannya dengan serakah. Sungai ini takkan tergoda oleh dorongan untuk bermurah hati. Setiap tetes yang diterimanya, ditahannya.
Laut Galilea memberi dan hidup. Laut yang satunya tidak memberi apa-apa. Namanya Laut Mati.
Ada dua tipe orang di dunia. Ada dua laut di Palestina.