Ndusuk, begitu orang Manggarai di Nusa Tenggara Timur menyebut tanaman perdu ini. Ndusuk sudah sangat akrab dengan kebudayaan orang Manggarai. Daun tanaman dari family Melastomataccae ini biasanya direbus bersama lemak daging dan dijadikan sayuran dalam acara-acara adat di Manggarai. Tanaman dengan nama latin Melastoma malabathricum atau orang Jawa menyebutnya Senggani tumbuh liar hampir di seluruh daerah di Manggarai, terutama di daerah-daerah dataran tinggi.
Ndusuk memiliki morfologi yang mudah dikenali. Berbunga majemuk dengan mahkota bunga berlekatan dan berwarna ungu, benang sari berjumlah delapan hingga dua belas dengan panjang ± 3cm berwarna kuning bercampur putih, membuat Ndusuk tampak indah sehingga sering juga dijadikan tanaman hias. Buah berbentuk bulat telur berwarna ungu dengan biji kecil berwarna coklat kemerahan. Tinggi tanaman ini bisa mencapai 3 meter dengan batang berkayu, berbentuk bulat, berwarna coklat dan berambut dengan percabangan simpodial. Jika sudah tua, batangnya bisa dijadikan kayu bakar. Dari ciri fisik daunnya, Ndusuk bisa dikenali dengan bentuknya yang lonjong dengan ujung lancip dan 3 tulang daun yang melengkung. Daun tunggal berwarna hijau, bertangkai pendek, letak silang berhadapan dan permukaan yang berambut. Panjang daun berkisar 4-12 cm dan lebar 2-8 cm. Tanaman perdu yang oleh orang Sunda disebut Harendong ini memiliki akar tunggang berwarna coklat.
Jika di Manggarai Ndusuk hanya dikenal sebagai sayuran, tetapi di daerah-daerah lain di Indonesia seperti Jawa, Sunda, Madura dan Sumatera, Ndusuk lebih dikenal sebagai tanaman obat yang berkhasiat sebagai obat diare, keputihan, luka bakar, sariawan dan radang usus. Megawati Simanjuntak (2008) dalam penelitiannya tentang Ekstraksi dan Fraksinas Daun Tumbuhan Melastoma malabathricum, membuktikan bahwa dalam daun Ndusuk terkandung senyawa kimia flavonoida, saponin dan tanin. Flavonoid dalam tubuh manusia berfungsi sebagai antioksidan sehingga sangat baik untuk pencegahan kanker. Manfaat flavonoid antara lain adalah untuk melindungi struktur sel, antinflamasi (antiradang), mencegah keropos tulang dan sebagai antibiotik. Dalam banyak kasus, flavonoid dapat berperan secara langsung sebagai antibiotik dengan menggangu fungsi dari mikroorganisme seperti bakteri atau virus.
Tanin merupakan astrigen yang mengikat dan mengendapkan protein berlebih dalam tubuh. Dalam bidang pengobatan, Tanin digunakan untuk mengobati diare, hemostatik (menghentikan pendarahan) dan wasir. Saponin dapat menurunkan kolesterol dan memiliki kemampuan sebagai pembersih dan antiseptic yang berfungsi untuk membunuh atau mencegah pertumbuhan mikro organisme.
Kandungan Tanin dan Saponin dalam Ndusuk diperkirakan yang menjadi alasan dipilihnya daun ini oleh orang Manggarai sebagai sayuran yang dicampur dengan lemak daging. Kedua zat kimia ini dapat mengikat protein dan kolesterol yang berlebihan dalam lemak daging dan membunuh berbagai mikro organisme yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan.
Dengan kandungan zat kimia berkhasiat obat yang dimilikinya, maka Melastoma malabathricum dapat kita budidayakan sebagai tanaman obat dan menjadi alternative pengobatan untuk berbagai penyakit. Untuk mengobati penyakit dalam seperti diare misalnya, dapat kita obati dengan meminum air rebusan campuran segenggam daun Ndusuk yang masih muda dan 5 gram kulit buah manggis. Untuk menetralkan racun, cukup dengan minum rebusan daun Ndusuk. Penyakit luar seperti luka dapat pula disembuhkan dengan daun Ndusuk. Daun Ndusuk yang masih segar atau yang telah dikeringkan digiling halus, lalu dibubuhkan pada luka bakar atau luka berdarah. Luka kemudian dibalut, agar pengobatan berjalan lancar.
Tampilkan postingan dengan label Tanaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanaman. Tampilkan semua postingan
Kamis, 13 Januari 2011
Jumat, 09 Mei 2008
Daun Dewa (Gynura divaricata)
Daun dewa di pekarangannya mami Kotce, samping kamarku, dibilang punya kasiat buat nyembuhin luka,slama ini saya sdikit bimbang, sampai beberapa hari yang lalu tangan saya kegores pisau dan berdarah. Karena P3K gak ada :),saya kemudian nyoba untuk ngompres pake daun dewa. Jadi itu daun dewa selembar,saya lumat terus dbalut ke luka saya. Beberapa menit kemudian saya cek, ternyata luka saya emang berhenti berdarah, ajaib ya..:)
Setelah barusan minta pertolongan om google, ternyata ada banyak banget artikel yang ngebahas tentang Daun Dewa atau Gynura divaricata.
Tumbuhan yang memiliki tinggi ± 50 cm,batang dan daun berwarna hijau,daun tunggal berbentuk bulat telur dengan permukaan daun yang berbuluh, memang sudah banyak digunakan sebagai tanam obat. Daun dewa ternyata mengandung berbagai unsur kimia, antara lain saponin, flavonoid, minyak atsiri dan antikoagulan yang bermanfaat untuk mencairkan bekuan darah, stimulasi sirkulasi, menghentikan perdarahan, menghilangkan panas dan membersihkan racun.
Setelah barusan minta pertolongan om google, ternyata ada banyak banget artikel yang ngebahas tentang Daun Dewa atau Gynura divaricata.
Tumbuhan yang memiliki tinggi ± 50 cm,batang dan daun berwarna hijau,daun tunggal berbentuk bulat telur dengan permukaan daun yang berbuluh, memang sudah banyak digunakan sebagai tanam obat. Daun dewa ternyata mengandung berbagai unsur kimia, antara lain saponin, flavonoid, minyak atsiri dan antikoagulan yang bermanfaat untuk mencairkan bekuan darah, stimulasi sirkulasi, menghentikan perdarahan, menghilangkan panas dan membersihkan racun.
Daun dewa atau Gynura divaricata
Karenanya tidak heran daun dewa bisa mengobati berbagai penyakit seperti luka,pendarahan,patah tulang,diabetes,rematik bahkan stroke.
cara penggunaannya juga sangat mudah. untuk pengobatan luar, cukup ambil daun dewa secukupnya, ditumbuk atau dihancurkan dan dioleskanpada bagian yang luka.
sedangkan untuk pengobatan dalam cukup dengan meminum air rebusan daun dewa.
Tertarik untuk mencobanya??
Selasa, 29 April 2008
Mahkota Dewa
Tanaman Mahkota Dewa pasti sudah tidak asing lagi diantara telinga kita. Tanaman yang berasal dari
Papua ini, memang banyak digunakan untuk pengobatan herbal. Saya sendiri saat ini adalah salah seorang pengkonsumsi teh Mahkota Dewa hasil racikan sendiri. Walaupun bukan sedang mengidap suatu penyakit, meminum Mahkota Dewa bisa menjaga kesegaran dan kesehatan tubuh, apalagi meminum teh Mahkota dewa bisa menimbulkan efek mengantuk, sehingga sangat pas jika diminum malam hari sebelum tidur.
Mahkota dewa yang mempunyai nama latin Phaleria macrocarpa, saat ini memang banyak dipercaya dapat mengobati berbagai penyakit seperti alergi, flu, diabetes, darah tinggi hingga kanker. Sebuah penelitian dr Regina Sumastuti dari Jurusan Farmakologi UGM, Mahkota Dewa ternyata mengandung senyawa kimia seperti saponin, flafonoid dan beberapa senyawa lainnya yang mempunyai efek antihistamin. Sehingga dapat dipercaya bahwa tanaman ini mampu mengobati alergi. Sementara itu, hingga saat ini belum ada penelitian khusus mengenai kandungan lain dari mahkota dewa sehingga dapat mengobati kanker. Walaupun demikian, ada begitu banyak pengalaman dari berbagai kalangan yang mengalami kesembuhan setelah mengkonsumsi teh racikan ataupun jamu mahkota dewa.
Memelihara mahkota dewa bukanlah suatu hal yang sulit. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian tempat 10-1000 m dpl dan berkembang biak dengan menggunakan biji. Tinggi bisa mencapai 5 meter dan pada usia 1 tahun sudah mulai dapat dipanen. Tanaman berbuah sepanjang musim, dengan bunga berwarna putih.
Buah muda berwarna hijau sedangkan jika telah masak berwarna merah menyala seperti apel dengan kulit buah yang licin.
Jika akan diracik menjadi teh, buah mahkota dewa yang sudah tua, dicuci bersih kemudian diiris kulit buah dan dagingnya lalu dikeringkan. Saat mengiris buah, kita perlu berhati-hati agar tidak mengenai bijinya karena biji mahkota dewa ternyata mengandung racun yang jika terminum bisa mengakibatkan mual dan muntah-muntah.
Untuk mengkonsumsinya, ambil 5-7 irisan mahkota dewa yang telah kering kemudian diseduh dengan dengan air panas dan diminum sebelum tidur. Ramuan mahkota dewa ini, tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh wanita hamil, karena bisa memacu kerja otot rahim sehingga mengakibatkan keguguran
Papua ini, memang banyak digunakan untuk pengobatan herbal. Saya sendiri saat ini adalah salah seorang pengkonsumsi teh Mahkota Dewa hasil racikan sendiri. Walaupun bukan sedang mengidap suatu penyakit, meminum Mahkota Dewa bisa menjaga kesegaran dan kesehatan tubuh, apalagi meminum teh Mahkota dewa bisa menimbulkan efek mengantuk, sehingga sangat pas jika diminum malam hari sebelum tidur.Mahkota dewa yang mempunyai nama latin Phaleria macrocarpa, saat ini memang banyak dipercaya dapat mengobati berbagai penyakit seperti alergi, flu, diabetes, darah tinggi hingga kanker. Sebuah penelitian dr Regina Sumastuti dari Jurusan Farmakologi UGM, Mahkota Dewa ternyata mengandung senyawa kimia seperti saponin, flafonoid dan beberapa senyawa lainnya yang mempunyai efek antihistamin. Sehingga dapat dipercaya bahwa tanaman ini mampu mengobati alergi. Sementara itu, hingga saat ini belum ada penelitian khusus mengenai kandungan lain dari mahkota dewa sehingga dapat mengobati kanker. Walaupun demikian, ada begitu banyak pengalaman dari berbagai kalangan yang mengalami kesembuhan setelah mengkonsumsi teh racikan ataupun jamu mahkota dewa.
Memelihara mahkota dewa bukanlah suatu hal yang sulit. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada ketinggian tempat 10-1000 m dpl dan berkembang biak dengan menggunakan biji. Tinggi bisa mencapai 5 meter dan pada usia 1 tahun sudah mulai dapat dipanen. Tanaman berbuah sepanjang musim, dengan bunga berwarna putih.
Buah muda berwarna hijau sedangkan jika telah masak berwarna merah menyala seperti apel dengan kulit buah yang licin.Jika akan diracik menjadi teh, buah mahkota dewa yang sudah tua, dicuci bersih kemudian diiris kulit buah dan dagingnya lalu dikeringkan. Saat mengiris buah, kita perlu berhati-hati agar tidak mengenai bijinya karena biji mahkota dewa ternyata mengandung racun yang jika terminum bisa mengakibatkan mual dan muntah-muntah.
Untuk mengkonsumsinya, ambil 5-7 irisan mahkota dewa yang telah kering kemudian diseduh dengan dengan air panas dan diminum sebelum tidur. Ramuan mahkota dewa ini, tidak dianjurkan untuk dikonsumsi oleh wanita hamil, karena bisa memacu kerja otot rahim sehingga mengakibatkan keguguran
Senin, 14 Januari 2008
Si Patah Tulang yang berkasiat
Ternyata nich,tanaman patah tulang atau Eupharbia tirucalli yang saya pelihara di rumah adalah salah satu tanaman obat yang bisa nyembuhin berbagai penyakit seperti maag,sakit gigi,rematik,nyeri tulang,wasir,dan berbagai penyakit kulit.Bagian yang biasa digunakan adalah akar,getah dan batangnya. Tetapi kita mesti berhati-hati dengan getah tanaman ini karena getah patah tulang mengandung senyawa kimia yang berbahaya bila tertelan apalagi jika terkena mata, harus segera dibilas dengan air atau santan.
Tanaman yang berasal dari Afrika ini adalah salah satu jenis kaktus, dan pemeliharaannyapun sangatlah mudah. Yang terpenting si patah tulang ini hidup di tempat terbuka dan mendapat cahaya matahari penuh.
Tanaman ini memiliki batang berwarna hijau berbentuk silindris. Daunnya juga berwarna hijau berbentuk elips dengan panjang daun kurang lebih 1cm yang terdapat pada setiap rantingnya.Tanaman ini dapat mencapai tinggi hingga 4m, memiliki getah berwarna putih dan bersifat racun karena mengandung senyawa kimia berbahaya. Tanaman ini memiliki cabang yang sangat banyak, setelah tumbuh sekitar 10-15 cm,batangnya akan memiliki cabang baru yang letaknya melintang. Demikian seterusnya sehingga percabangannya terlihat berpatah-patah dan karenaya dinamakan patah tulang.
Untuk perkembangbiakan tanaman ini sangatlah mudah, yakni cukup menggunakan stek batangnya dengan media tumbuh menggunakan tanah.
Jika hendak digunakan sebagai obat, misalnya penyakit kulit,kita cukup mengambil batang dan akarnya dan dikeringkan. setelah itu dihaluskan dan ditempelkan pada tempat yang sakit seperti luka,bisul,keseleo,terkilir dan sebagainya, sedangkan jika ingin pengobatan dari dalam, batang dan akar yang telah dihaluskan cukup diminum atau dicampur dengan makanan.Sedangkan untuk mengobati sakit gigi,kita dapat mengambil getahnya dengan kapas dan dioleskan pada gigi yang sakit, tetapi harus ekstra hati-hati jangan sampai tertelan.
Tanaman yang berasal dari Afrika ini adalah salah satu jenis kaktus, dan pemeliharaannyapun sangatlah mudah. Yang terpenting si patah tulang ini hidup di tempat terbuka dan mendapat cahaya matahari penuh.
Tanaman ini memiliki batang berwarna hijau berbentuk silindris. Daunnya juga berwarna hijau berbentuk elips dengan panjang daun kurang lebih 1cm yang terdapat pada setiap rantingnya.Tanaman ini dapat mencapai tinggi hingga 4m, memiliki getah berwarna putih dan bersifat racun karena mengandung senyawa kimia berbahaya. Tanaman ini memiliki cabang yang sangat banyak, setelah tumbuh sekitar 10-15 cm,batangnya akan memiliki cabang baru yang letaknya melintang. Demikian seterusnya sehingga percabangannya terlihat berpatah-patah dan karenaya dinamakan patah tulang.
Untuk perkembangbiakan tanaman ini sangatlah mudah, yakni cukup menggunakan stek batangnya dengan media tumbuh menggunakan tanah.
Jika hendak digunakan sebagai obat, misalnya penyakit kulit,kita cukup mengambil batang dan akarnya dan dikeringkan. setelah itu dihaluskan dan ditempelkan pada tempat yang sakit seperti luka,bisul,keseleo,terkilir dan sebagainya, sedangkan jika ingin pengobatan dari dalam, batang dan akar yang telah dihaluskan cukup diminum atau dicampur dengan makanan.Sedangkan untuk mengobati sakit gigi,kita dapat mengambil getahnya dengan kapas dan dioleskan pada gigi yang sakit, tetapi harus ekstra hati-hati jangan sampai tertelan.
Rabu, 24 Oktober 2007
Bromeliaku berbunga
Jika anda pencinta tanaman, pasti mengenal bunga "nenas" Bromelia..Yup,karena daunnya yang mirip nenas,makanya sebagian orang menyebut bunga ini bunga nenas. Bunga ini berasal dari Amerika latin dan sangat mudah dalam pemeliharaannya.Kita bisa menggunakan media serbuk,atau juga sabut kelapa.Tetapi kadang-kadang bromelia juga dapat tumbuh pada media tanah.Pemupukannya juga bisa menggunakan pupuk kandang ataupun pupuk daun.
Sayangnya tanaman satu ini jarang sekali berbunga. Nah kemarin,satu-satunya bromelia saya di mess berbunga.warnanya putih dan sangat cantik.Bromelia bunganya bisa bertahan sampai satu bahkan sampai dua bulan.
Sayangnya tanaman satu ini jarang sekali berbunga. Nah kemarin,satu-satunya bromelia saya di mess berbunga.warnanya putih dan sangat cantik.Bromelia bunganya bisa bertahan sampai satu bahkan sampai dua bulan.
Bromelia
Senin, 08 Oktober 2007
Sarang Semut
Balik dari Bumi Borneo beberapa waktu yang lalu saya membawa oleh2 sarang semut. Tanaman obat yang mempunyai nama latin Myrmecodia ini sebenarnya ada juga di Maluku, tetapi karena mungkin kurang beruntung,
saya baru menemukan tanaman ini di pinggiran sungai Blino Kutai Barat Kalimantan Timur.
Ada beberapa jenis Myrmecodia di Indonesia dan selain di Kalimantan dan Maluku tanaman ini juga banyak dijumpai di Sulawesi dan Papua.
Di Maluku sendiri sarang semut tidak begitu dikenal oleh masyarakat walaupun tumbuhan ini banyak tumbuh di hutan Maluku. Sedangkan di daerah Papua sarang semut sudah lama digunakan sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit seperti kanker, lever dan ginjal. Masyarakat tradisional di sana sering mencampur sarang semut
yang telah dikeringkan ke dalam makanan ataupun minuman mereka karena dipercaya dapat meningkatkan imunitas tubuh dan memberikan energi.
Tetapi benarkah sarang semut mengandung zat yang bisa melawan penyakit-penyakit berbahaya?
Setelah tadi menggunakan google search saya menemukan bahwa menurut Ahli gizi Dr Mien Karmini yang sempat eksplorasi di Papua pada 1995 sarang semut mengandung zat aktif seperti antioksidan, polifenol, dan glikosida.
Antioksidan pada sarang semut berperan dalam pembentukan koloni, menjaga tempat telur jauh dari kuman penyakit, sama seperti pada lebah madu.
Antioksidan itu melindungi sel-sel tubuh agar dapat menjalankan pekerjaan dengan baik. Kalau sel bekerja dengan baik, penyakit yang mengganggu fungsi sel seperti kanker dapat dicegah. Glikosida berfungsi sebagai imuno stimulan untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
Saat ini sarang semut semakin sulit didapatkan di alam seiring banyaknya permintaan konsumen. Di sepanjang sungai Blino tempat saya menemukan tanaman ini misalnya. Menurut pengakuan masyarakat sekitar, pada tahun 2005 sarang semut masih sangat banyak tetapi saat ini sangat sulit menemukan tanaman obat ini.
Saat ini para produsen sarang semut memang hanya mengandakan sarang semut yang disediakan oleh alam tanpa melakukan budidaya padahal tanaman ini tergolong mudah dipelihara yang penting mendapatkan media tanam yang sesuai, cahaya serta air yang cukup. Media tanam yang biasa digunakan adalah sabut kelapa, arang atau serbuk kayu karena di alam tanaman ini juga menempel pada pohon.
Ada beberapa jenis Myrmecodia di Indonesia dan selain di Kalimantan dan Maluku tanaman ini juga banyak dijumpai di Sulawesi dan Papua.
Di Maluku sendiri sarang semut tidak begitu dikenal oleh masyarakat walaupun tumbuhan ini banyak tumbuh di hutan Maluku. Sedangkan di daerah Papua sarang semut sudah lama digunakan sebagai obat tradisional untuk berbagai penyakit seperti kanker, lever dan ginjal. Masyarakat tradisional di sana sering mencampur sarang semut
Tetapi benarkah sarang semut mengandung zat yang bisa melawan penyakit-penyakit berbahaya?
Setelah tadi menggunakan google search saya menemukan bahwa menurut Ahli gizi Dr Mien Karmini yang sempat eksplorasi di Papua pada 1995 sarang semut mengandung zat aktif seperti antioksidan, polifenol, dan glikosida.
Antioksidan pada sarang semut berperan dalam pembentukan koloni, menjaga tempat telur jauh dari kuman penyakit, sama seperti pada lebah madu.
Antioksidan itu melindungi sel-sel tubuh agar dapat menjalankan pekerjaan dengan baik. Kalau sel bekerja dengan baik, penyakit yang mengganggu fungsi sel seperti kanker dapat dicegah. Glikosida berfungsi sebagai imuno stimulan untuk meningkatkan kekebalan tubuh.
Saat ini sarang semut semakin sulit didapatkan di alam seiring banyaknya permintaan konsumen. Di sepanjang sungai Blino tempat saya menemukan tanaman ini misalnya. Menurut pengakuan masyarakat sekitar, pada tahun 2005 sarang semut masih sangat banyak tetapi saat ini sangat sulit menemukan tanaman obat ini.
Saat ini para produsen sarang semut memang hanya mengandakan sarang semut yang disediakan oleh alam tanpa melakukan budidaya padahal tanaman ini tergolong mudah dipelihara yang penting mendapatkan media tanam yang sesuai, cahaya serta air yang cukup. Media tanam yang biasa digunakan adalah sabut kelapa, arang atau serbuk kayu karena di alam tanaman ini juga menempel pada pohon.
Sarang semut
Senin, 06 Agustus 2007
Kaktus
Wah...
Aku lagi tergila-gila sama kaktus nich..
Di sini ada berbagai jenis kaktus yang
baru kutemuin, ada
yang bentuknya kayak tongkat, ada juga yang bentuknya kayak keris, trus ada juga yang bekutil-kutil...wah... jenis2nya lucu dan unik, dan melihara kaktus gak ada susahnya sedikitpun, apalagi buat aku yang jarang menetap, melihara kaktus sepertinya sangat pas, soalnya kaktus ngga perlu sering disiram, kebanyakan air malah bisa busuk dan mati, Sebab, kaktus di
kenal dengan tanaman sukulen, mampu menyimpan air pada batangnya. Cukup disiram saat pot terlihat sudah kering.
Tumbuhan kaktus berasal dari dataran tandus seperti Amerika Selatan dan Meksiko. Daerah-daerah itu punya cu
rah hujan rendah dengan frekuensi yang tak tentu. Perubahan suhu yang ada pun sangat ekstrem. Ada juga pendapat yang mengatakan bahwa kaktus itu berasal dari Amerika Tengah dan Selatan, Kanada Utara sampai ke Kepulauan Galapagos, di Pasifik dan Kepulauan tropis di India Timur dan Karibia.
Kaktus berasal dari kata Yunani kaktos. Artinya, tanaman berduri. Tanaman kaktus sudah ada dari sekitar 100 juta tahun lalu. Dulu kaktus punya bentuk tubuh yang tinggi. Lalu karena letusan gunung berapi kaktus juga ikut punah akibat kegiatan vulkanik. Namun setelah itu muncul kembali kaktus tetapi dengan bentuk yang lebih pendek seperti yang kita jumpai sekarang.Wilayah hidup kaktus amat beragam, mulai dari daerah pantai sampai ke pegunungan.Kaktus memang mudah melakukan adaptasi dengan lingkungannya.
Di Indonesia, kaktus pertamakali diperkenalkan oleh para penjajah Belanda yang datang ke Indonesia membawa bibit kaktus.
Langganan:
Postingan (Atom)